Oleh Willy H Rawung
Di antara sekian banyak wilayah yang disinggung dalam
sub-bab tentang penyebaran Kristen dan Katolik abad ke-19, Minahasa muncul
sebagai salah satu studi kasus paling menonjol dan paling sering dirujuk —
hadir dua kali, dalam pembahasan Protestan maupun Katolik, dengan karakter dan
kronologi yang sangat berbeda satu sama lain. Justru dari kontras inilah jilid
ini berhasil menghadirkan gambaran yang lebih kaya tentang bagaimana
Kristenisasi di satu wilayah yang sama bisa berjalan lewat jalur yang sangat
berlainan.
Kristenisasi Protestan:
Pendekatan Kultural Riedel.
Narasi Protestan di
Minahasa ditempatkan dalam kerangka besar ekspansi Nederlandsch
Zendelinggenootschap (NZG), lembaga zending Protestan Belanda yang berdiri 1797
dan mulai aktif mengirim zendeling ke Hindia Belanda sejak 1839. Dalam kerangka inilah nama
Johan Friedrich Riedel muncul: seorang zendeling NZG yang tiba di Minahasa pada
1831 untuk mengabarkan Injil kepada penganut agama suku setempat.
Yang menarik dari
penyajian buku ini adalah penekanannya pada metode Riedel, bukan sekadar
pencapaian angka konversi. Riedel digambarkan berhasil karena pendekatannya
yang menghargai bahasa dan budaya lokal — ia mengundang masyarakat ke rumahnya
untuk berdiskusi sambil menjamu kopi, sebuah strategi yang terbukti efektif
mengajak banyak orang Tondano memeluk Kristen. Detail kecil semacam ini memberi
nuansa manusiawi pada proses yang sering direduksi menjadi statistik semata,
dan menempatkan Riedel dalam kategori yang sama dengan tokoh zending lain yang
disinggung di halaman-halaman berikutnya, seperti Jellesma di Mojowarno yang
mendekati masyarakat lewat sekolah dan nyanyian rohani.
Bab ini juga menempatkan
Minahasa sebagai titik awal dari ekspansi NZG yang lebih luas ke wilayah timur
Indonesia — dari sana misi berlanjut ke Sulawesi Selatan (1851–1864), lalu ke
Sawu dan Nusa Tenggara Timur (1870–1900), Poso (1892), hingga Bolaang Mongondow
(1904). Dengan kata lain, Minahasa diposisikan bukan sekadar satu lokasi
tersendiri, melainkan simpul awal sebuah jaringan misi Protestan yang menjalar
ke berbagai penjuru Nusantara timur.
Kristenisasi Katolik:
Jalur yang Berbeda dan Datang Belakangan
Yang kurang banyak
diketahui publik, dan justru menjadi kontribusi menarik dari jilid ini, adalah
narasi Kristenisasi Katolik di Minahasa — yang jauh lebih terlambat dan
berjalan lewat jalur yang sama sekali berbeda dari misi Protestan. Buku ini
mencatat bahwa penyebaran Katolik di Minahasa pada abad ke-19 banyak berkaitan
dengan dinas militer kolonial: sejumlah pria Minahasa meminta dibaptis demi
mendapatkan insentif finansial yang menyertai status keagamaan tertentu dalam
struktur militer Hindia Belanda — sebuah motif konversi yang jauh berbeda dari
pendekatan spiritual-kultural yang menjadi ciri misi Riedel.
Titik balik penting
terjadi saat kunjungan Pastor Jesuit Johannes de Vries ke Minahasa pada 1868,
yang memicu pertambahan umat Katolik secara signifikan, termasuk peristiwa
pembaptisan massal di Ratahan yang — menurut catatan buku ini — sempat
menimbulkan ketegangan, baik dengan misi Protestan yang sudah lebih dulu mapan
di wilayah itu maupun dengan otoritas kolonial. Setelah upaya diplomatis lebih
lanjut oleh Pastor Gregorius Metz dan penempatan permanen Pastor Bernardus
Mutsaers di Manado pada 1886, jumlah umat Katolik di sana mencapai lebih dari
2.500 jiwa.
Namun buku ini secara
eksplisit membandingkan angka tersebut dengan realitas Protestan di wilayah
yang sama: sekitar 90.000 umat Protestan pada periode itu. Kontras 2.500
berbanding 90.000 ini adalah salah satu data paling tajam dalam keseluruhan
sub-bab, dan menjadi bukti kuantitatif betapa dominannya jejak misi Riedel dan
penerusnya dibanding upaya Katolik yang datang jauh lebih belakangan dengan
basis sosial yang lebih rapuh (terikat pada relasi militer, bukan konversi
berbasis komunitas).
Catatan Kritis
§ Kedalaman berbanding topik
lain. Dibanding uraian
tentang Jawa Barat atau Tanah Batak yang disertai analisis tantangan dan
resistensi Islam terhadap Kristenisasi, narasi Minahasa relatif ringkas dari
sisi analitis — kuat pada kronologi dan angka, tapi minim pembahasan tentang
bagaimana masyarakat Minahasa sendiri merespons atau menegosiasikan proses ini
di luar kerangka "keberhasilan misi".
§ Sumber yang digunakan. Rujukan utama untuk
bagian Minahasa bersandar pada karya standar seperti Jan Sihar Aritonang dan
Karel Steenbrink, A History of Christianity in Indonesia — sumber
akademik yang kredibel, namun berarti buku ini belum banyak menggali sumber
primer lokal Minahasa untuk memperkaya narasi dari perspektif komunitas yang
mengalaminya sendiri.
§ Kontras yang belum
dieksplorasi lebih jauh. Data 2.500 berbanding 90.000 jiwa sangat provokatif untuk dianalisis
lebih dalam, tetapi buku ini berhenti pada penyajian data tanpa banyak
elaborasi tentang implikasinya terhadap identitas sosial-keagamaan Minahasa
pasca-abad ke-19.
Sumber yang Terlewat:
Analisis Kausal A.B. Lapian
Yang paling mencolok absen
dari daftar pustaka sub-bab ini adalah karya A.B. Lapian, sejarawan maritim
kelahiran Tegal yang dibesarkan di Tomohon dan menulis khusus tentang Perang
Tondano dalam sebuah makalah seminar Yayasan Kebudayaan Minahasa (Jakarta,
1986). Ketiadaan rujukan ini terasa signifikan karena Lapian justru menjawab
pertanyaan paling mendasar yang tidak dijawab jilid ini: mengapa orang Minahasa
berbondong-bondong memeluk Kristen dalam skala besar pada abad ke-19, padahal
upaya serupa oleh misionaris Portugis dan Spanyol berabad-abad sebelumnya,
serta VOC selama satu setengah abad kekuasaannya, tidak banyak membuahkan
hasil?
Jilid V menyajikan
kronologi tokoh — Riedel tiba 1831, mendekati masyarakat lewat diskusi sambil
menjamu kopi — tetapi tidak menjelaskan mengapa pendekatan itu jatuh pada momen
yang tepat. Lapian mengisi celah ini dengan argumen yang jauh lebih struktural:
1. Trauma pascaperang
sebagai pintu masuk. Menurut Lapian, keyakinan tradisional yang telah berakar
berabad-abad tidak mudah tergantikan kecuali bila keyakinan itu sendiri sudah
goyah akibat pengalaman traumatis. Kekalahan Perang Tondano (1808–1809) —
dengan kelaparan, kematian kerabat, dan kekalahan di hadapan senjata api Eropa
yang jauh lebih unggul — memaksa masyarakat Minahasa mempertanyakan kembali
kerangka kepercayaan dan kebudayaan lama mereka.
2. Wabah cacar 1819
sebagai pukulan telak kedua. Sepuluh tahun setelah perang, wabah cacar menewaskan
sekitar 15.600 jiwa — kira-kira seperenam total penduduk Minahasa saat itu —
sementara pengobatan tradisional tidak mampu menanganinya. Para zendeling yang
datang tidak hanya membawa ajaran baru, tetapi juga pengetahuan pengobatan
modern, sehingga masyarakat yang dilanda beruntun bencana ini berpaling kepada
mereka untuk mencari pegangan hidup baru.
3. Pendidikan sebagai
mesin transformasi sosial. Lapian mencatat data yang tidak muncul di Jilid V: pada
1850, dari total penduduk Minahasa sekitar 99.500 jiwa, telah berdiri 12 sekolah
dasar pemerintah pusat, 20 sekolah kelola pemerintah setempat, dan lebih dari
80 sekolah yang didirikan oleh Zending — kepadatan lembaga pendidikan yang
sangat tinggi dibanding daerah lain di Hindia Belanda pada masa yang sama.
Nama-nama seperti Hellendoorn, Riedel, Schwarz, Wilken, dan Graafland dikenang
bukan semata sebagai penyebar Injil, melainkan sebagai bagian dari jaringan
pendidikan yang membuka jalur mobilitas ke birokrasi kolonial tingkat bawah.
4. Mempertanyakan mitos
"loyalitas abadi". Bagian paling tajam dari analisis Lapian adalah kritiknya
terhadap citra Minahasa sebagai "provinsi ke-12" Belanda yang serba
patuh — sebuah label yang menurutnya hanya menangkap satu sisi realitas. Ia
mengutip sejarawan Patuleia-Schouten (1978) untuk menunjukkan bahwa masyarakat
Minahasa sesungguhnya kerap menyatakan penolakan terhadap kebijakan Belanda,
meski tidak dalam bentuk pemberontakan bersenjata — melainkan lewat
non-kooperasi (dalam istilah lokal: maraju) dan,
secara ironis, lewat literasi yang justru mereka pelajari dari Belanda sendiri
lalu dibalikkan sebagai alat perlawanan.
5. Politik memori
pascaperang yang aktif ditekan. Lapian juga mencatat bagaimana penguasa kolonial secara
sengaja berupaya menghapus ingatan tentang Perang Tondano — memberi amnesti
bagi hampir semua pihak yang melawan kecuali para pemimpin utama, menutup
jabatan tertentu bagi keturunan langsung mereka, dan bahkan makam salah satu
pemimpin perlawanan (Matulandi) sengaja ditempatkan tanpa tanda di bawah tanah.
Namun ingatan itu tetap hidup lewat tradisi lisan keluarga, termasuk pantangan
turun-temurun untuk menjadi anggota tentara kolonial dan ritual mendayung
dengan tenang saat melintasi lokasi-lokasi pertempuran di Danau Tondano.
Ketiadaan rujukan pada
karya Lapian ini bukan sekadar soal kelengkapan catatan kaki — ia mengubah
keseluruhan bingkai narasi. Jilid V menyajikan Kristenisasi Minahasa sebagai
kisah keberhasilan misi yang relatif linear (pendekatan kultural Riedel yang efektif),
sementara analisis Lapian menempatkannya sebagai respons masyarakat yang jauh
lebih kompleks dan aktif terhadap serangkaian krisis eksistensial (perang,
wabah, keruntuhan kerangka makna lama) — sekaligus masyarakat yang tidak
sepenuhnya pasif atau "loyal", melainkan terus menegosiasikan dan
bahkan menolak kekuasaan kolonial lewat cara-cara yang tidak selalu terlihat
sebagai perlawanan.
Sub-bab ini menyajikan Minahasa sebagai contoh
kasus ganda yang jarang dibahas berdampingan: Kristenisasi yang berhasil lewat
pendekatan kultural-linguistik (Protestan, dipelopori Riedel sejak 1831)
berhadapan dengan Kristenisasi yang datang belakangan lewat jalur
institusional-militer dan kurang berakar (Katolik, dimulai serius baru sejak
kunjungan De Vries 1868). Namun ketika dibandingkan dengan analisis A.B. Lapian
yang menautkan gelombang konversi itu pada trauma Perang Tondano dan wabah
cacar 1819, narasi Jilid V terasa jauh lebih deskriptif ketimbang eksplanatif —
ia mencatat siapa yang datang dan apa yang terjadi, tetapi
kurang menjelaskan mengapa
masyarakat Minahasa pada momen spesifik itu menjadi begitu terbuka terhadap
ajaran baru, dan bagaimana respons mereka sesungguhnya jauh lebih bernuansa daripada
sekadar "loyalitas" atau "keberhasilan misi" semata.
Sumber: Bab V, Sub-bab H
"Persebaran Lanjut Agama Kristen dan Katolik" (hlm. 594–608) Penerbit: Kementerian Kebudayaan
RI, 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar