Kamis, 22 Oktober 2026

Resensi Atas Kristenisasi di Minahasa dalam Jilid V Buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global (2025)

 Oleh Willy H Rawung

Di antara sekian banyak wilayah yang disinggung dalam sub-bab tentang penyebaran Kristen dan Katolik abad ke-19, Minahasa muncul sebagai salah satu studi kasus paling menonjol dan paling sering dirujuk — hadir dua kali, dalam pembahasan Protestan maupun Katolik, dengan karakter dan kronologi yang sangat berbeda satu sama lain. Justru dari kontras inilah jilid ini berhasil menghadirkan gambaran yang lebih kaya tentang bagaimana Kristenisasi di satu wilayah yang sama bisa berjalan lewat jalur yang sangat berlainan.

Kristenisasi Protestan: Pendekatan Kultural Riedel.

Narasi Protestan di Minahasa ditempatkan dalam kerangka besar ekspansi Nederlandsch Zendelinggenootschap (NZG), lembaga zending Protestan Belanda yang berdiri 1797 dan mulai aktif mengirim zendeling ke Hindia Belanda sejak 1839. Dalam kerangka inilah nama Johan Friedrich Riedel muncul: seorang zendeling NZG yang tiba di Minahasa pada 1831 untuk mengabarkan Injil kepada penganut agama suku setempat.

Yang menarik dari penyajian buku ini adalah penekanannya pada metode Riedel, bukan sekadar pencapaian angka konversi. Riedel digambarkan berhasil karena pendekatannya yang menghargai bahasa dan budaya lokal — ia mengundang masyarakat ke rumahnya untuk berdiskusi sambil menjamu kopi, sebuah strategi yang terbukti efektif mengajak banyak orang Tondano memeluk Kristen. Detail kecil semacam ini memberi nuansa manusiawi pada proses yang sering direduksi menjadi statistik semata, dan menempatkan Riedel dalam kategori yang sama dengan tokoh zending lain yang disinggung di halaman-halaman berikutnya, seperti Jellesma di Mojowarno yang mendekati masyarakat lewat sekolah dan nyanyian rohani.

Bab ini juga menempatkan Minahasa sebagai titik awal dari ekspansi NZG yang lebih luas ke wilayah timur Indonesia — dari sana misi berlanjut ke Sulawesi Selatan (1851–1864), lalu ke Sawu dan Nusa Tenggara Timur (1870–1900), Poso (1892), hingga Bolaang Mongondow (1904). Dengan kata lain, Minahasa diposisikan bukan sekadar satu lokasi tersendiri, melainkan simpul awal sebuah jaringan misi Protestan yang menjalar ke berbagai penjuru Nusantara timur.

Kristenisasi Katolik: Jalur yang Berbeda dan Datang Belakangan

Yang kurang banyak diketahui publik, dan justru menjadi kontribusi menarik dari jilid ini, adalah narasi Kristenisasi Katolik di Minahasa — yang jauh lebih terlambat dan berjalan lewat jalur yang sama sekali berbeda dari misi Protestan. Buku ini mencatat bahwa penyebaran Katolik di Minahasa pada abad ke-19 banyak berkaitan dengan dinas militer kolonial: sejumlah pria Minahasa meminta dibaptis demi mendapatkan insentif finansial yang menyertai status keagamaan tertentu dalam struktur militer Hindia Belanda — sebuah motif konversi yang jauh berbeda dari pendekatan spiritual-kultural yang menjadi ciri misi Riedel.

Titik balik penting terjadi saat kunjungan Pastor Jesuit Johannes de Vries ke Minahasa pada 1868, yang memicu pertambahan umat Katolik secara signifikan, termasuk peristiwa pembaptisan massal di Ratahan yang — menurut catatan buku ini — sempat menimbulkan ketegangan, baik dengan misi Protestan yang sudah lebih dulu mapan di wilayah itu maupun dengan otoritas kolonial. Setelah upaya diplomatis lebih lanjut oleh Pastor Gregorius Metz dan penempatan permanen Pastor Bernardus Mutsaers di Manado pada 1886, jumlah umat Katolik di sana mencapai lebih dari 2.500 jiwa.

Namun buku ini secara eksplisit membandingkan angka tersebut dengan realitas Protestan di wilayah yang sama: sekitar 90.000 umat Protestan pada periode itu. Kontras 2.500 berbanding 90.000 ini adalah salah satu data paling tajam dalam keseluruhan sub-bab, dan menjadi bukti kuantitatif betapa dominannya jejak misi Riedel dan penerusnya dibanding upaya Katolik yang datang jauh lebih belakangan dengan basis sosial yang lebih rapuh (terikat pada relasi militer, bukan konversi berbasis komunitas).

Catatan Kritis

§  Kedalaman berbanding topik lain. Dibanding uraian tentang Jawa Barat atau Tanah Batak yang disertai analisis tantangan dan resistensi Islam terhadap Kristenisasi, narasi Minahasa relatif ringkas dari sisi analitis — kuat pada kronologi dan angka, tapi minim pembahasan tentang bagaimana masyarakat Minahasa sendiri merespons atau menegosiasikan proses ini di luar kerangka "keberhasilan misi".

§  Sumber yang digunakan. Rujukan utama untuk bagian Minahasa bersandar pada karya standar seperti Jan Sihar Aritonang dan Karel Steenbrink, A History of Christianity in Indonesia — sumber akademik yang kredibel, namun berarti buku ini belum banyak menggali sumber primer lokal Minahasa untuk memperkaya narasi dari perspektif komunitas yang mengalaminya sendiri.

§  Kontras yang belum dieksplorasi lebih jauh. Data 2.500 berbanding 90.000 jiwa sangat provokatif untuk dianalisis lebih dalam, tetapi buku ini berhenti pada penyajian data tanpa banyak elaborasi tentang implikasinya terhadap identitas sosial-keagamaan Minahasa pasca-abad ke-19.

Sumber yang Terlewat: Analisis Kausal A.B. Lapian

Yang paling mencolok absen dari daftar pustaka sub-bab ini adalah karya A.B. Lapian, sejarawan maritim kelahiran Tegal yang dibesarkan di Tomohon dan menulis khusus tentang Perang Tondano dalam sebuah makalah seminar Yayasan Kebudayaan Minahasa (Jakarta, 1986). Ketiadaan rujukan ini terasa signifikan karena Lapian justru menjawab pertanyaan paling mendasar yang tidak dijawab jilid ini: mengapa orang Minahasa berbondong-bondong memeluk Kristen dalam skala besar pada abad ke-19, padahal upaya serupa oleh misionaris Portugis dan Spanyol berabad-abad sebelumnya, serta VOC selama satu setengah abad kekuasaannya, tidak banyak membuahkan hasil?

Jilid V menyajikan kronologi tokoh — Riedel tiba 1831, mendekati masyarakat lewat diskusi sambil menjamu kopi — tetapi tidak menjelaskan mengapa pendekatan itu jatuh pada momen yang tepat. Lapian mengisi celah ini dengan argumen yang jauh lebih struktural:

1. Trauma pascaperang sebagai pintu masuk. Menurut Lapian, keyakinan tradisional yang telah berakar berabad-abad tidak mudah tergantikan kecuali bila keyakinan itu sendiri sudah goyah akibat pengalaman traumatis. Kekalahan Perang Tondano (1808–1809) — dengan kelaparan, kematian kerabat, dan kekalahan di hadapan senjata api Eropa yang jauh lebih unggul — memaksa masyarakat Minahasa mempertanyakan kembali kerangka kepercayaan dan kebudayaan lama mereka.

2. Wabah cacar 1819 sebagai pukulan telak kedua. Sepuluh tahun setelah perang, wabah cacar menewaskan sekitar 15.600 jiwa — kira-kira seperenam total penduduk Minahasa saat itu — sementara pengobatan tradisional tidak mampu menanganinya. Para zendeling yang datang tidak hanya membawa ajaran baru, tetapi juga pengetahuan pengobatan modern, sehingga masyarakat yang dilanda beruntun bencana ini berpaling kepada mereka untuk mencari pegangan hidup baru.

3. Pendidikan sebagai mesin transformasi sosial. Lapian mencatat data yang tidak muncul di Jilid V: pada 1850, dari total penduduk Minahasa sekitar 99.500 jiwa, telah berdiri 12 sekolah dasar pemerintah pusat, 20 sekolah kelola pemerintah setempat, dan lebih dari 80 sekolah yang didirikan oleh Zending — kepadatan lembaga pendidikan yang sangat tinggi dibanding daerah lain di Hindia Belanda pada masa yang sama. Nama-nama seperti Hellendoorn, Riedel, Schwarz, Wilken, dan Graafland dikenang bukan semata sebagai penyebar Injil, melainkan sebagai bagian dari jaringan pendidikan yang membuka jalur mobilitas ke birokrasi kolonial tingkat bawah.

4. Mempertanyakan mitos "loyalitas abadi". Bagian paling tajam dari analisis Lapian adalah kritiknya terhadap citra Minahasa sebagai "provinsi ke-12" Belanda yang serba patuh — sebuah label yang menurutnya hanya menangkap satu sisi realitas. Ia mengutip sejarawan Patuleia-Schouten (1978) untuk menunjukkan bahwa masyarakat Minahasa sesungguhnya kerap menyatakan penolakan terhadap kebijakan Belanda, meski tidak dalam bentuk pemberontakan bersenjata — melainkan lewat non-kooperasi (dalam istilah lokal: maraju) dan, secara ironis, lewat literasi yang justru mereka pelajari dari Belanda sendiri lalu dibalikkan sebagai alat perlawanan.

5. Politik memori pascaperang yang aktif ditekan. Lapian juga mencatat bagaimana penguasa kolonial secara sengaja berupaya menghapus ingatan tentang Perang Tondano — memberi amnesti bagi hampir semua pihak yang melawan kecuali para pemimpin utama, menutup jabatan tertentu bagi keturunan langsung mereka, dan bahkan makam salah satu pemimpin perlawanan (Matulandi) sengaja ditempatkan tanpa tanda di bawah tanah. Namun ingatan itu tetap hidup lewat tradisi lisan keluarga, termasuk pantangan turun-temurun untuk menjadi anggota tentara kolonial dan ritual mendayung dengan tenang saat melintasi lokasi-lokasi pertempuran di Danau Tondano.

Ketiadaan rujukan pada karya Lapian ini bukan sekadar soal kelengkapan catatan kaki — ia mengubah keseluruhan bingkai narasi. Jilid V menyajikan Kristenisasi Minahasa sebagai kisah keberhasilan misi yang relatif linear (pendekatan kultural Riedel yang efektif), sementara analisis Lapian menempatkannya sebagai respons masyarakat yang jauh lebih kompleks dan aktif terhadap serangkaian krisis eksistensial (perang, wabah, keruntuhan kerangka makna lama) — sekaligus masyarakat yang tidak sepenuhnya pasif atau "loyal", melainkan terus menegosiasikan dan bahkan menolak kekuasaan kolonial lewat cara-cara yang tidak selalu terlihat sebagai perlawanan.

 Sub-bab ini menyajikan Minahasa sebagai contoh kasus ganda yang jarang dibahas berdampingan: Kristenisasi yang berhasil lewat pendekatan kultural-linguistik (Protestan, dipelopori Riedel sejak 1831) berhadapan dengan Kristenisasi yang datang belakangan lewat jalur institusional-militer dan kurang berakar (Katolik, dimulai serius baru sejak kunjungan De Vries 1868). Namun ketika dibandingkan dengan analisis A.B. Lapian yang menautkan gelombang konversi itu pada trauma Perang Tondano dan wabah cacar 1819, narasi Jilid V terasa jauh lebih deskriptif ketimbang eksplanatif — ia mencatat siapa yang datang dan apa yang terjadi, tetapi kurang menjelaskan mengapa masyarakat Minahasa pada momen spesifik itu menjadi begitu terbuka terhadap ajaran baru, dan bagaimana respons mereka sesungguhnya jauh lebih bernuansa daripada sekadar "loyalitas" atau "keberhasilan misi" semata.


Sumber: Bab V, Sub-bab H "Persebaran Lanjut Agama Kristen dan Katolik" (hlm. 594–608) Penerbit: Kementerian Kebudayaan RI, 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar